Di era globalisasi ini, manusia semakin dimudahkan dengan teknologi. Hanya dengan mengklik gadget yang dimiliki, kita sudah bisa mencari informasi, memesan atau membeli suatu barang baik itu makanan, minuman, pakaian dan lain-lain.

Hal ini tentu saja bermanfaat jika digunakan dengan baik dan bijak sebagaimana fungsinya. Tetapi dibalik sisi positifnya tentu saja memiliki sisi negatif. Salah satunya adalah ujaran kebencian (hate speech) baik itu berupa hujatan, hinaan, hasutan, fitnah, provokasi dan ajakan untuk kenbencian baik itu di dunia maya (online) maupun di dunia nyata (offline).

Di Indonesia sendiri, Kita dengan mudahnya menemukan ujaran kebencian tersebut. Baik itu di media sosial seperti Facebook, Twitter atau Instagram. Sayangnya hal ini tidak  hanya berlaku di dunia maya, melaikan juga di dunia nyata. Bukan hanya itu, hal ini tentu menimbulkan banyak sekali dampak negatif salah satunya adalah timbulnya kebencian.

Tanpa kita sadari, sebenarnya kebencian merupakan hal yang dasar yang menyebabkan sebuah perpecahan. Sebagai contoh, ada beberapa negara yang hancur dikarenakan isu kebencian melalui SARA (suku, agama,  ras, antar golongan) seperti negara Syria, Yaman, Libia, Irak dan Rwanda.

Hal ini tentu saja tidak menutup kemungkinan, jika Indonesia akan mendapatkan nasib yang sama seperti negara tadi. Apabila masih bertebaran isu-isu kebecian baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Tetapi nyatanya, di Indonesia masih banyak sekali kita temukan isu-isu kebencian melalui SARA. Hal ini bahkan dijadikan suatu ladang bisnis bagi suatu kelompok untuk melakukan tindak kejahatan melalui kebencian.

Menurut data Direktorat Tindak Pidana Siber (Ditsiber) Bareskrim Polri, Sindikat Sarancen tiap service pengelola isu ujaran kebencian dan SARA dibandrol RP 75 juta – Rp 100 juta. Mereka memiliki 2000 akun untuk menjelekan agama Islam, Kristen, dan lainnya (Merdeka.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here