Komunitas Sahabat Blogger

Gaung Kusta di Udara Bersama KBR

Gaung Kusta di Udara Bersama KBR

0 36

Senin, 13 September 2021 Kembali KSB berkesempatan mengikuti diskusi terbuka Gaung Kusta di Udara Berita KBR.

 

Acara ini merupakan kerjasama antara NLR Indonesia dan pihak KBR Indonesia, dalam rangka kampanye Indonesia Bebas Kusta. NLR Indonesia adalah sebuah yayasan nasional dan anggota aliansi NLR yang juga sebuah organisasi non pemerintahan (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta.

Sementara KBR adalah penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999. Dengan dukungan reporter dan kontributor terbaik di berbagai kota di tanah air dan Asia, dengan jaringan radio di berbagai daerah di Indonesia, Asia, dan Australia.

Dan untuk kali ini untuk pembicara di hadirkan oleh dr.Febrina Sugianto selaku Junior Technical Advisor NLR Indonesia dan Malika Selaku Manager Program dan Podcast KBR

Sejarah Tentang Kusta

Awal mula penyakit kusta ditemukan ternyata pada peradaban Mesir Kuno, China kuno, dan India.

Ilmuwan asal Norwegia, Gerhard Henrik Armauer Hansen menemukan bakteri mycobacterium leprae pada 1873. Hingga ditemukan kembali bakteri mycobacterium lepromatosis oleh Universitas Texas pada tahun 2008. Jadi penyakit ini dulunya juga disebut penyakit lepra.

Anak generasi 90-an biasanya sering mengenal istilah ini dibanding penyakit kusta. Iya nggak?

Namun ada juga yang menyebut ini penyakit Hansen, sesuai dengan nama penemunya. Nama penyakit ini sekaligus mengganti kata leprosy yang sebenarnya memiliki makna negatif yaitu gangguan atau masalah kesehatan di Indonesia yang memiliki dampak komplikasi ganda.

Hal ini terkait isu miring atau stigma buruk yang diberikan masyarakat terhadap penderita penyakit kusta. Banyak juga masyarakat menganggap ini sebagai penyakit keturunan atau malah kutukan akibat dosa masa lalu. Imbasnya, masyarakat justru mengucilkan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK).

Dan dalam talkshow dr. Febrina menjelaskan bahwa penyakit kusta secara umum terbagi menjadi 3 tipe diantaranya:
1. kusta tuberkuloid
2. lepromatosa
3. garis batas

dr. Febrina Sugianto juga menjelaskan bahwa secara garis besar kusta dibedakan menjadi dua, Pausibasiler (PD) dan Multibasiler (MB). Untuk Pausibasiler, bercaknya lebih sedikit antara 1-5 karena jumlah kumannya sedikit, mati rasa, bisa terbentuk hipo pigmentasi yaitu bagian warna yang lebih cerah daripada kulit sekitarnya, misalnya kulit asli warna coklat lalu muncul bercak putih. Ada mati rasa pada bagian yang berwarna, hanya mengganggu satu bagian syaraf misalnya di wajah saja.

“Untuk di Indonesia sendiri justru banyak dijumpai kasus Multibasiler, dimana jumlah bakterinya lebih banyak sehingga bercak yang muncul lebih dari lima dan menyebar ke seluruh tubuh, distribusi bercak lebih simetris tersebar merata, bisa terjadi di sisi kiri maupun kanan tubuh, mempengaruhi lebih dari satu syaraf, misalnya di kaki kiri dan kanan,” jelas dr. Febrina Sugianto.

Pengelompokan kusta tersebut ditentukan dari respons kekebalan seseorang terhadap penyakit.Reaksi kusta dapat terjadi pada saat masa terapi MDT karena adanya pengaruh dari kondisi imun, kondisi psikologis atau mengalami stress, beberapa bahkan bisa ada efek perubahan warna kulit.

Terapi MDT ini merupakan terapi intens jadi harus mengkonsumsi obat khusus setiap hari selama 6 sampai 8 bulan. Dan itu harus dilakukan setiap hari dalam jangka waktu tersebut, jika sampai ada absen minum obat maka ada resiko nantinya akan dilakukan pengulangan terapi dari awal jika absennya sudah cukup lama.

Hal buruk yang seringkali terjadi pada penderita kusta saat masa pengobatan adalah karena masa proses terapi yang lama dan intens karena setiap hari mengkonsumsi obat adakalanya beberapa mengalami kejenuhan, atau jika mengalami reaksi kusta saat terapi maka merasa putus asa.

Dan untuk menyebarkan fakta seputar kusta ini, KBR bersama dengan NLR Indonesia juga mengadakan lomba ‘Indonesia Bebas Kusta: Sebarkan faktanya, lawan stigma dan hoaxnya’ melalui IG Reels dan IG Photo pada 13-22 september 2021.

Diharapkan melalui lomba dan konten-konten media sosial, pesan edukasi mengenai penyakit kusta dapat tersampaikan dengan lebih cepat, efisien, edukatif, sekaligus informatif. Hal ini senada dengan harapan dr.Febrina Sugianto yang disampaikan di akhir acara, “diharapkan dengan cara ini dapat menyampaikan pesan positif, membangun dan mengedukasi bukan dari kaca mata belas kasihan.”

“Radio sama seperti media lainnya, punya fungsi untuk membentuk opini masyarakat, bisa berfungsi sebagai watchdog. Bisa mempengaruhi kelompok marginal” Malika ~ Manager Program & Podcast KBR 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.